Saturday, February 10, 2007

Jadi Perawat?... Ogah..ah!!!!



(Tulisan berseri dalam usaha membangun reputasi & persepsi positif bagi profesi)

Oleh :
Siswanto M. Muhammad
(Ketua Umum INNA-Kuwait)

Ada suatu fenomena yang menarik dalam “Ruang Keperawatan Indonesia”, Judul diatas adalah sebuah jawaban yang sering akan kita dapatkan ketika pertanyaan itu akan kita tanyakan kepada masyarakat secara umum.

Mereka akan dengan bangganya menyampaikan jawaban : “YA” ketika mereka di beri tawaran untuk melanjutkan study pada peminatan yang masih di anggap berada pada level yang tinggi di kalangan masayarakat Indonesia seperti : (ekonomi, tekhnik, hukum, kedokteran dsb). Tapi mereka akan mereka akan dengan cepat mengelengkan kepala dengan jawaban ÖGAH-AH”ketika mereka di Tanya tentang kesempatan untuk melanjutkan di peminatan “KEPERAWATAN".

Hal ini terjadi karena adanya suatu pemahaman yang salah dan keliru tentang “Perawat dan Keperawatan”di lingkup masyarakat Indonesia secara umum sehingga mengakibatkan perilaku tidak tertarik untuk menekuni apalagi memilih profesi perawat.

Yang lebih menarik lagi, ketika seorang mahasiswa keperawatan telah memulai suatu proses pembelajaran, ada perasaan penyesalan “Terbersit”dalam hati mereka karena persepsi yang salah tentang profesi “Perawat”itu sendiri. Persepsi keliru itu terjadi karena kesalan informasi yang mereka terima dan kenyataan di lapangan .

Menyesalkah mereka telah memilih Perawat sebagai profesi mereka??? Kalau pertanyaan itu ditanyakan kepada mereka maka dengan tersipu malu mereka akan memberikan jawab : “YA”saya menyesal……..

Mengapa??????

Tentu karena ada suatu kesenjangan antara harapan dan kenyataan awal yang mereka dapatkan, padahal itu semua terjadi karena misinterprestasi terhadap “Profesi perawat” yang akan mereka jalani.

Kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan Negara-negara yang secara umum masyarakatnya sudah memahami benar dan tahu persis apa dan bagaimana serta kesempatan apa saja yang akan mereka dapatkan kalau menjadi “Perawat” seperti : Philipines, India, dsb.

Di Negara-negara tersebut bahkan seorang dokter spcialist, arsitek, pengacara, ahli komputer, mereka akan rela meninggalkan profesinya demi untuk jadi seorang perawat karena mereka yakin dengan menjadi perawat mereka akan dapat hidup dengan layak dan dapat bekerja di Negara manapun yang mereka inginkan.
Sekedar untuk berbagi informasi saya punya kawan Perawat yang berasal dari Philipines dan bekerja satu rumah sakit di Kuwait dia mantan seorang dokter specialis kebidanan di Phlipines dan yang bersangkutan rela meningggalkan profesinya dan Kuliah sebagai Perawat karena mereka menyadari benar dengan menjadi seorang Perawat yang bersangkutan dapat memiliki kesempatan untuk bekerja di Negara manapun dia inginkan. Dan itu hanya salah satu contoh, masih banyak cerita yang sama yang saya tidak bias utarakan satu persatu di tulisan saya ini.

Ada beberapa hal yang segera harus kita lakukan agar reputasi dan persepsi masyarakat terhadap perawat semakin positif antara lain :

1. Melakukan distribusi informasi kepada seluruh masyarakat
Sumber informasi seperti televisi, media massa, radio dan sarana sumber informasi lainya belum menjadi alat yang di optimalkan oleh seluruh Perawat Indonesia dalam semua sektor.

Masih sangat jarang kita temui Tulisan-tulisan tentang keperawatan masuk dalam Head line News Surat kabar nasional sebuah berita baik yang bersifat Berita, informasi dsb. Hal ini harusnya mulai disikapi dengan bijaksana terutama oleh para Ahli Keperawatan yang harusnya sudah mulai rajin menulis dan memberikan pembelajaran kepada masyarakat tentang profesi keperawatan dan peran sertanya. Bila semakin banyak para Pakar dan ahli keperawatan yang meluangkan waktu untuk membuat tulisan-tulisan dalam media seperti : Surat Kabar, internet, Televisi, radio, pasti ini akan sangat mendukung kampanye nasional penyebaran informasi positif tentang keperawatan sehingga pemahaman masayarakat tentang perawat dan keperawatan.

Kalangan intelektual keperawatan( seperti : Mahassiwa, dose, parktisi) juga harus mampu bersaing dan tidak terkesan “GAPTEK (gagap tekhnologi)” sehingga kita akan semakin bias berkiprah dalam segala aspek kehidupan bermasayarakat baik secara Politik, Ekonomi, Sosial ataupun dimensi kehidupan bermasayarakat lainnya.

Pepatah “Tak Kenal maka Tak Sayang” tentu masih sangat relevan dengan kondisi ini.

2. Memotivasi secara Psikologis kepada Mahasiswa Keperawatan\
Ada pekerjaan rumah yang besar bagi para perawat yang bekerja di sektor pendidikan (sebagai dosen) bahwa kewajiban mereka bukan hanya menyampaikan materi sesuai capain kurikulum tapi juga memiliki tugas berat dalam rangak membangun keyakinan hidup dan optimisme profesi bagi calon Perawat bahwa mereka dapat hidup lebih mapan secara ekonomi bahkan di banding dengan profesi lain kalau mereka benar-benar menjadi perawat yang professional.

Perlu di tumbuhkan keyakinan pada seluruh mahasiswa di semua program keperawatan bahwa dengan menjadi seorang Perawat kita akan mampu menjelajah dan bekerja diseluruh dunia yang mungkin akan sangat sulit diperoleh oleh profesi lain seperti : Dokter, Arsitek, pengacara, dsb.

3. Menghentikan segala kegiatan Malpraktek
Seluruh Perawat harus secepatnya menyadari bahwa Cakupan dan kewenagan pekerjaan seorang Perawat sangat berbeda dengan dokter, sehingga tidak ada lagi Perawat yang melakukan Praktek Pelayanan Kedokteran. Dalam hal ini organisasi profesi seperti PPNI tentu harus memiliki kontribusi yang lebih konkrit dalam menciptakan aturan dan perundang-undangan dalam rangka menciptakan situasi yang kondusif. Hal ini sangat penting dalam rangka pembelajaran kepada masyarakat bahwa Perawat adalah profesi yang terpisah dan berbeda dari seorang dokter dan memiliki batasan kewenangan yang berbeda. Perawat juga bukan pembantu (asisten) dokter tapi Mitra dalam arti kesetaraan dalam segala aspek.

4. Menciptakan iklim Persaingan dan Penyampain Peluang Pekerjaan
Pearawat tidak seharusnya berkecil hati dengan takut tidak mendapatkan pekerjaan yang layak dan hanya menggantungkan bahwa kesempatan dan peluang kerja pada satu kesempatan (banyak perawat kita yang hanya berharap untuk bias jadi pegawai negero sipil).

Padahal kalau kita menyadari sebenarnya banyak sekali kesempatan dan tawaran kerja di luar negeri seperti :
a. USA
b. Canada
c. United Kingdom (Inggris)
d. Kuwait
e. Saudi Arabia
f. Australia
g. New Zaeland
h. Malaysia
i. Qatar
j. Oman
k. UEA
l. Jepang
m. German
n. Belanda
o. Swiss


Di Negara-negara tersebut gaji perawat bias 5-30 kali lipat gaji pegawai Negeri di Negara Indonesia, tentu tidak mudah untuk bias mencapai itu semuanya tapi bukan sesuatu yang sulit untuk dicapai kalu kita telah mempersiapkan sejak kita masih di bangku kuliah. Untuk bisa bekerja di negara-negara tersebut kita harus melalui beberapa test seperti : NCLEX-RN, IELTS, CGFNS (akan saya bahas dalam tulisan saya selanjutnya)

Apa persiapan-persiapan yang harus kita lakukan untuk dapat mencapai itu semuanya (akan saya bahas dalam tulisan saya berikutnya).

Ketika kwalitas SDM keperawatan sudah meningkat dan berada dalam standarisasi kualitas internasional (Cakap secara teori dan praktek) dan mampu berbahasa internasional seperti (English dan atau Arabic) maka bukan lagi Perawat yang akan mencari pekerjaan tapi Ruimah sakit yang akan mencari mereka. Saat itulah saatnya bicara “Selamat Tingga dan Good Bye” pada rumah sakit atau pemilik lapangan pekerjaan yang menggaji perawat dengan stnadar gaji yang rendah. Bila ditinjau dari hokum Ekonomi kalau kondisi itu sudah tercipta dengan sendirinya tidak akan ada Rumah sakita atau lapangan pekerjaan yang akan menggaji perawat dengan semau-maunya, tidak akan adalagi profesi yang memandang rendah perawat.

Bagaimana…? Masih meyesal menjadi Perawat…Jawabanya tentu sangat tergantung pada posisi mana anda sekarang, Tapi kalau pertanyaan itu di tanyakan kapada saya saya akan menjawab dengan lantang dan tegas : TIDAK, Saya sangat bangga dan bersyukur telah dilahirkan untuk menjadi seorang Perawat, Idealnya seluruh Perawat Indonesia juga akan memberikan jawaban yang sama.

Ada sebuah realita yang menarik yang mungkin akan bias membangkitkan semangat kita semua : bahwa seorang perawat akan bias memiliki keahlian apapun tanpa ada batas pengahalang dan bias berkecimpung dalam keahlian lain .\

Perawat bias jadi ahli Komputer, Entrepreneur, Penulis, Politikus sekalipun tanpa hambatan apapun. Tapi coba kondisi ini di balik : bisakah ahli computer, penulis, politikus, Ekonom, melakuakn praktek keperawatan, Jeals tidak bias karena keahlian keperawatan harus dengan keahlian yang spesifik.

Bagaimana…Banggakah anda menjadi Perawat???

Sampai ketemu dalam Seri tulisan selanjutnya….moga bias membangkitkan semangat.
Baca Selanjutnya Klik disini............

all about nursing

Sunday, August 20, 2006

"Cerebral Vascular Accident/Disease (STROKE)"


Definition

Hemorrhagic stroke involves bleeding within the brain, damaging nearby brain tissue.

Causes, incidence, and risk factors
Hemorrhagic stroke occurs when a blood vessel bursts inside the brain. The brain is very sensitive to bleeding and damage can occur very rapidly, either because of the presence of the blood itself, or because the fluid increases pressure on the brain and harms it by pressing it against the skull.Bleeding irritates the brain tissue, causing swelling. The surrounding tissues of the brain resist the expansion of the bleeding, which is finally contained by forming a mass (hematoma). Both swelling and hematomawill compress and displace normal brain tissue.Most often, hemorrhagic stroke is associated with high blood pressure, which stresses the artery walls until they break.

Another cause of hemorrhagic stroke is an aneurysm. This is a weak spot in an artery wall, which balloons out because of the pressure of the blood circulating inside the affected artery. Eventually, it can burst and cause serious harm. The larger the aneurysm is, the more likely it is to burst. It is unclear why people develop aneurysms, but genes may play a role, since aneurysms run in families.Stroke can also be caused by the accumulation of a protein called amyloid within the artery walls, particularly in the elderly. This makes the arteries more prone to bleeding.

Amyloid protein is also implicated in the brain damage related to Alzheimer's disease, but the difference is that people with Alzheimer´s disease have amyloid accumulation in the brain tissue instead of in the arteries. Therefore people with Alzheimer´s usually do not develop brain bleeding.Some people with brain hemorrhage have abnormal connections between arteries and veins. Under normal circumstances, circulating blood travels through the arteries into the capillaries, where it provides nutrients and oxygen to the tissues. Once the blood has deposited the nutrients and oxygen, it is carried back to the heart from the capillaries via the veins.

In some people, however, a brain artery may connect directly to a vein, instead of going through the capillaries first. This is called an arterial-venous malformation (AVM). Since blood pressure in the arteries is much greater than in the veins, the veins may rupture, causing bleeding into the brain.Another important brain disease that can cause bleeding is cancer. This is especially true for cancers that spread to the brain from distant organs, such as the breast, skin, and thyroid.

About 20% of strokes are hemorrhagic -- but the other 80% are caused by the opposite problem: too little blood reaching an area of the brain, which is usually due to a clot that has blocked a blood vessel. This is called "ischemic stroke." This type of stroke can sometimes lead to a brain hemorrhage because the affected brain tissue softens and this can lead to breaking down of small blood vessels.


In addition, brain hemorrhage can occur when people have problems forming blood clots. Clots, which are the body's way of stopping any bleeding, are formed by proteins called coagulation factors and by sticky blood cells called platelets. Whenever the coagulation factors or platelets do not work well or are insufficient in quantity, people may develop a tendency to bleed excessively.


Some medications (often used, ironically, to prevent ischemic stroke) prevent clot formation. These work by blocking the production of clotting factors (such as the blood thinner warfarin) or interfering with the function of platelets (such as aspirin). The most common side effects of such medications is bleeding, which may occasionally affect the brain. Controlling bleeding to avoid stroke is a very fine balancing act.

Illicit drugs, such as cocaine, can also cause hemorrhagic stroke.

Symptoms
  • Stroke symptoms are typically of sudden onset and may quickly become worse. The following is a list of possible problems:

  • Weakness or inability to move a body part

  • Numbness or loss of sensation

  • Decreased or lost vision (may be partial)

  • Speech difficulties

  • Inability to recognize or identify familiar things

  • Sudden headache

  • Vertigo (sensation of the world spinning around)

  • Dizziness

  • Loss of coordination

  • Swallowing difficulties

  • Sleepy, stuporous, lethargic, comatose, or unconscious



Signs and tests
A neurologic exam is almost always abnormal. The patient may look drowsy and confused. An eye examination may show abnormal eye movements, and changes may be seen upon retinal examination (examination of the back of the eye with an instrument called ophthalmoscope). The patient may have abnormal reflexes. However, these findings are not specific to brain hemorrhage.

The most important test to confirm the presence of a brain hemorrhage is a CT scan, which provides pictures of the brain. A CT scan should be obtained without delay. A brain magnetic resonance imaging (MRI) scan can also be obtained later to better understand what caused the bleeding. A conventional angiography (x-ray of the arteries using dye) may be required to identify aneurysms or AVM.

Other tests may include:
  • CBC

  • Bleeding time

  • Prothrombin/partial thromboplastin time (PT/PTT)

  • CSF (cerebrospinal fluid) examination (rarely needed)


Treatment
Treatment includes life-saving measures, relieving symptoms, repairing the cause of the bleeding, preventing complications, and starting rehabilitation as soon as possible. Recovery may occur over time as other areas of the brain take over functioning for the damaged areas.

IMMEDIATE TREATMENT
Treatment is ideally administered in an intensive care unit, where complications can immediately be detected. Medical personnel pay careful attention to breathing because sometimes persons with brain hemorrhage develop very irregular breathing patterns or even stop breathing entirely.

A person having a hemorrhagic stroke may be unable to protect the airway during coughing or sneezing because of impaired consciousness. Saliva or other secretions may go "down the wrong pipe," which is potentially serious and may cause lung problems such as aspiration pneumonia. To treat or prevent these breathing problems, a tube may need to be placed through the mouth into the trachea to start mechanical ventilation.

The blood pressure may be too high or too low in patients with brain hemorrhage. These problems need to be addressed immediately by doctors. In addition, brain bleeding may cause swelling of surrounding brain tissue, and this may require therapy with some drugs called hyperosmotic agents (mannitol, glycerol, and hypertonic saline solutions).

Bedrest may be advised to avoid increasing the pressure in the head (intracranial pressure). This may include avoiding activities such as bending over, lying flat, sudden position changes or similar activities. Stool softeners or laxatives may prevent straining during bowel movements (straining also causes increased intracranial pressure).

Medications may relieve headache but should be used with caution because they may reduce consciousness. This may produce the wrong impression that the patient is getting worse. Antihypertensive medications may be prescribed to moderately reduce high blood pressure. Medications such as phenytoin may be needed to prevent or treat seizures.

Nutrients and fluids may need to be supplemented if swallowing difficulties are present. This can be intravenous or through a feeding tube into the stomach (gastrostomy tube). Swallowing difficulties may be temporary or permanent.

Positioning, range-of-motion exercises, speech therapy, occupational therapy, physical therapy, and other interventions may be advised to prevent complications and promote maximum recovery of function.


SURGERY
Sometimes, surgery is needed to save the patient's life or to improve the chances of recovery. The type of surgery depends upon the specific cause of brain bleeding. For example, a hemorrhage due to an aneurysm requires special treatement (see aneurysm).

For other types of bleeding, removal of the hematoma may occasionally be needed, especially when bleeding occurs in the back of the brain. Some physicians are currently investigating whether the injection of a "clot buster" inside the hematoma can facilitate the removal of brain hemorrhages through needles or catheters, allowing less invasive surgery.

One common problem related to brain bleeding is hydrocephalus, which is the accumulation of a water-like fluid within the brain cavities called ventricles. To solve this problem, the fluid may need to be drained with a special procedurecalled ventriculostomy.

For AVM, different treatments are available, including surgical removal of the AVM network, radiosurgery (using ionizing radiation to reduce the size of the AVM), and intra-arterial embolization (a procedure in which glue is injected into the AVM to close the connection between arteries and veins).

LONG-TERM TREATMENT
Recovery time and the need for long-term treatment are highly variable in each case. Physical therapy may benefit some patients. Activity should be encouraged within the person's physical limitations. Alternative forms of communication such as pictures, verbal cues, demonstration or others may be needed depending on the type and extent of language deficit. Speech therapy, occupational therapy, or other interventions may increase the ability to function.

Urinary catheterization or bladder or bowel control programs may be required to control incontinence.A safe environment must be considered. Some people with stroke appear to have no awareness of their surroundings on the affected side. Others show a marked indifference or lack of judgment, which increases the need for safety precautions.

In-home care, boarding homes, adult day care, or convalescent homes may be required to provide a safe environment, control aggressive or agitated behavior, and meet physiologic needs. Behavior modification may be helpful for some patients in controlling unacceptable or dangerous behaviors. This consists of rewarding appropriate or positive behaviors and ignoring inappropriate behaviors (within the bounds of safety). Reality orientation, with repeated reinforcement of environmental and other cues, may help reduce disorientation.

Family counseling may help in coping with the changes required for home care. Visiting nurses or aides, volunteer services, homemakers, adult protective services, and other community resources may be helpful. Legal advice may also be appropriate early in the course of the disorder. Advance directives, power of attorney, and other legal actions may make it easier to make ethical decisions regarding the care of the person with hemorrhagic stroke.

Expectations (prognosis)
Stroke is the third leading cause of death in developed countries. About one-forth of people who have a stroke die as a result of the stroke or its complications, about one-half have long-term disabilities, and about one-forth recover most or all function.

Hemorrhagic stroke is less common but more frequently fatal than ischemic stroke.

Complications
  • Pressure sores

  • Permanent loss of movement or sensation of a part of the body

  • Joint contractures

  • Muscle spasticity

  • Permanent loss of cognitive or other brain functions (dementia)

  • Disruption of communication, decreased social interaction

  • Decreased ability to function or care for self

  • Decreased life span

  • Urinary and respiratory tract infections


Prevention
Most cases of hemorrhagic stroke are associated with specific risk factors, such as high blood pressure, smoking, or cocaine use. Controlling blood pressure and avoiding smoking and cocaine can reduce the chances of brain bleeding. Surgery to correct blood vessel abnormalities like aneurysms or AVMs is sometimes advisable to prevent bleeding.

Assesssment
1. Subjective Data
  • Weakness, sudden or gradual loss of mevement of extremities on one side

  • Difficulty forming words

  • difficulty swallowing (dysphagia)

  • Nausea, Vomiting

  • History of TIAs


2. Objective Data
a. Vital Signs :
  • BP: elevated;widened pulse prssure.

  • Temperatue: elevated

  • Pulse : normal, slow

  • Respirations : Tachypnea, altered pattern ; deep; sonorous.


b. Neurologic :
  • Altered level of consciousness

  • Pupils : unequal ; vision : hormonymous hemianopia.

  • Ptosis of eyelid, drooping mouth.

  • Paresis or paralysis (hemiplagia)

  • Loss of sensation and reflexes

  • Incontinence of urine oe feces

  • Aphasia


Analysis/ Nursing Diagnosis :
1. Impaired physical mobility related to hemiplagia
2. Impaired swallowing related to paralysis
3. Impaired verbal communication related to aphasia
4. Risk for aspiration related to uncosciousness
5. sensory/perceptual alteration related to altered cerebral blood flow, visual field blindness
6. Altered thought processes related to cerebral edema
7. Self-care defisit related to paresis or paralysis
8. Body image disturbance related to hemiplegia
9. Total incontinence related to interruption of normal nerve transmission
10. Impaired social interaction related to aphasia or neurologic defisit.
11. Risk for impaired skin integrity related to immobility
12. Unilateral neglect related to cerebral damage.

Nursing Care Plan/Implementation
1. Reduce cerebral anoxia (Patent airway, Activity, Position)
2. Promote cardiovascular function and maintain cerebral perfusion.
3. Provide for emotion relaxation
4. Patient safety
5. Health Teaching (Exercise, Diet)

Evaluation/Outcome Criteria :
1. No complication (pneumonia)
2. Regains functional independence
3. Return of control over body functions.

#References :
  • Sally L. Lagerquist, NCLEX-RN Examination Review, 1998

  • Dolores F. Saxton, Comprehensive Review Of Nursing For NCLEK-RN, Sixteenth Edition, Mosby, St. louis, Missouri, 1999.

  • The lippincott Manual of Nursing Practice, 7th Edition, 2005.

  • Nursing Procedures, Springhouse Publishing Co, 3rd, ed, Mosby, 2000
Baca Selanjutnya Klik disini............

all about nursing

Tuesday, August 08, 2006

"Kesehatan Jiwa dan Pengalaman Traumatik"


Oleh :
Siswanto M. Muhammad

1. PENGERTIAN
Kesehatran Jiwa adalah PerasaanSehat dan Bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.

Kesehatan jiwa meliputi :
· Bagaimana perasaan anda terhadap diri sendiri
· Bagaimana perasaan anda terhadap orang lain
· Bagaimana kemampuan anda mengatasi persoalan hidup anda Sehari - hari.

2. PENGELOMPOKAN GEJALA GANGGUAN JIWA
A. Gejala Psikotik :
- Waham
- Halusinasi
- Inkoherensi
- Katatonia

B. Gejala Non Psikosis :
- Cemas
- Depresi
- Keluhan fisik

C. Gangguan Fungsi ( > 1 Minggu )
- Fungsi Sosial
- Pekerjaan
- Penderitaan Diri

3. SEPULUH CARA MENINGKATKAN KESEHATAN JIWA
- Terimalah keluarga anda apa adanya.
- Berlakulah jujur
- Saling memuji
- Saling menghargai
- Saling Peka
- Bagilah tugas
- Jangan memperalat atau menganiaya
- Mempunyai harapan yang realistis
- Saling percaya dan setia
- Jangan segan untuk meminta tolong

4. PENANGANAN KASUS KEDARURATAN PSIKIATRIK
Kedaruratan Psikiatrik adalah Keadaan gangguan dalam proses fikir, alam perasaan dan perbuatan yang memerlukan tindakan pertolongan segera. Kasus kedaruratan psikiatrik yang sering ditemukan adalah percobaan bunuh diri dan keadaan gaduh gelisah.

Penatalaksanaan Percobaan Bunuh Diri :
- Mengamankan jalan pernafasan.
- Memperbaiki fungsi kardiovaskulair
- Mengeluarkan zat yang digunakan dari saluaran pencernaan dan
- Pengobatan toksikologik.
- Bila tindakan pertolongan medik berhasil dengan baik, maka dilanjutkan dengan penatalaksanaan Psikiatrik.
- Bila tidak terdapat perbaikan keadaan fisik pada penatalaksanaan medik, maka penderita segera dirujuk kerumah sakit.

Penatalaksanaan Keadaan Gaduh Gelisah :
- Mendeteksi adanya tanda-tanda gangguan mental seperti penurunan kesadaran gangguan daya ingat,diorientasi dan gangguan fungsi intelektual.
- Apabila terdapat salah satu tanda tesrsebut maka kemungkinan keadaan gaduh gelisah dilatarbelakangi oleh gangguan mental organic (gangguan kesehatan umum)
- Selanjutnya pasien dirujuk ke Rumah Sakit .
- Apabila tidak terdapat tanda organic kemungkinan kasus dalam keadaan gaduh gelisah,psikiatrik harus diobati.

5. Pengalaman traumatik

Gangguan Stres Pasca Trauma merupakan gangguan mental pada seseorang yang muncul setelah mengalami suatu pengalaman traumatik dalam kehidupan atau suatu peristiwa yang mengancam keselamatan jiwanya. Sebagai contoh peristiwa perang, perkosaan atau penyerangan secara seksual, serangan yang melukai tubuh, penyiksaan, penganiayaan anak, peristiwa bencana alam seperti : gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, kecelakaan lalu lintas atau musibah pesawat jatuh. Orang yang mengalami sebagai saksi hidup kemungkinan akan mengalami gangguan stres. (Bufka & Barlow, 2006:1)

Berbagai bencana yang menimpa saudara-saudara kita di nusantara, seperti ; Tsunami di Aceh dan Nias; Gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah, lalu banjir di Sulawesi Selatan, Gorontalo, Kalimantan, yang menewaskan ratusan orang; di Sidoarjo, rakyat harus mengungsi karena kebanjiran lumpur panas. Oleh karenanya perlu disosialisasikan hal-hal praktis berkaitan dengan Gangguan Stress Pasca Trauma.  

Mencari dukungan Sosial :

- Melakukan kontak dengan orang lain dapat mengurangi perasaan sedih (distress)
- Anak-anak dan para remaja dapat ketenangan dan hal positif bila dapat berkumpul dengan teman sebayanya
- Kontak hubungan dapat dilakukan dengan anggota keluarga, teman atau dengan sesama korban

Pilihan Dukungan Sosial

- Suami/Istri
- Pacar
- Pendeta, Pastur, Biarawati, Ustad, Ustadzah, - Alim Ulama
- Kelompok Relawan
- Anggota keluarga terpercaya
- Dokter atau perawat
- Rekan Kerja
- Teman dekat
- Konselor Krisis
- Hewan Peliharaan 

Hal hal yang harus dilakukan :

- Berbicara dengan hati-hati
- Memulai pembicaraan mengenai hal yang praktis
- Menanyakan terlebih dahulu apakah ini waktu yang tepat untuk mengajaknya berbicara
- Sudah dipersiapkan hal yang ingin didiskusikan
- Beritahu maksud kehadiran anda apakah anda ingin mengajak berbicara atau hanya sekedar menemaninya
- Beritahu betapa berterima kasihnya anda atas kesediaan untuk mendengarkan
- Pilihlah waktu dan tempat yang tepat
- Bicarakan rasa sakit dan pahit yang menimpanya ketika anda sudah siap
- Tanyakan apa yang anda inginkan atau bagaimana dapat membantunya suatu hal utama yang dapat membantunya saat ini 

Hal hal yang jangan dikerjakan :
- Diam saja karena menganggap hanya akan membuat kesal
- Diam karena mengira mereka tidak akan mendengarkan
- Diam karena karena takut menyinggung perasaan
- Hanya menunggu karena ikut stres atau takut tidak dapat membantu 

Cara untuk dapat berhubungan :
- Hubungi keluarga atau teman dengan telepon
- Ikut terlibat dengan kelompok sukarelawan
- Tingkatkan kontak dengan teman dekat
- Ikut terlibat dalam aktivitas pemulihan
- Bangun /aktifkan kembali kegiatan pengajian-pengajian di masjid/kegiatan ke gereja/pure/klenteng

Memberikan Dukungan Sosial
Anda dapat membantu anggota keluarga dan teman yang mengalami bencana dengan berbagi waktu bersama mereka dan mendengarkan cerita dengan seksama. Banyak orang dapat pulih dengan baik ketika merasa diterima dan dimengerti oleh orang lain. Beberapa memilih untuk tidak banyak menceritakan pengalamannya, dan beberapa mungkin sebaliknya mendiskusikanya sampai berulang kali. Membicarakan kejadian yang terjadi akibat bencana dapat sedikit membantu, bersamaan dengan hal itu, hanya dengan berbagi waktubersamanya dapat membuatnya merasa dekat dan diterima, walau tanpa berkata-kata dapat merasa lebih baik.

Alasan Mengapa orang akan menolak Dukungan Sosial:
- Tidak tahu apa yang mereka inginkan
- Tidak ingin merepotkan orang lain
- Ingin menghindari untuk memikirkan atau merasakan peristiwa traumatis
- Merasa malu atau lemah
- Meragukan bahwa hal tersebut dapat membantunya, atau orang lain tidak dapat mengerti
- Merasa orang lain akan kecewa atau menghakiminya
- Merasa akan kehilangan kontrol diri
- Sudah putus asa mencari bantuan dan merasa sebelumnya tidak ada yang membantu
- Tidak tahu harus minta tolong kepada siapa?

Hal positif yang terjadi bila mendapatkan dukungan Sosial :
- Terlihat tertarik, perhatian dan peduli
- Terlihat adanya reaksi hormat pada individu dan mulai mampu menjalani dengan lebih baik
- Dapat berkomentar lebih baik tentang bencana yang sudah terjadi
- Dapat berkomunikasi dengan baik setiap saat
- Dengan berjalanya waktu stres dapat berangsur-angsur pulih
- Diyakini semua orang dapat pulih seperti sedia kala
- Bebas dari penilaian orang lain
- Dapat berdiskusi tentang hal-hal positif yang dapat dilakukan dalam pemulihan
- Dapat diajak berbicara atau berbagi waktu bersama selama diperlukan


Hal-hal yang dapat mengganggu Dukungan Sosial :
- Memaksa orang untuk merasa nyaman dan mengatakan bahwa semua itu sudah berlalu
- Menunjukan bahwa orang lain lebih lemah dibandingkan dengan diri anda yang tegar karena dapat menjalani hidup dengan lebih baik- Hanya membicarakan pengalamannya sendiri tanpa mau mendengar cerita orang lain
- Memberi saran yang tidak tepat karena anda tidak bertanya atau mendengarkanya terlebih dahulu
- Menghentikan pembicaraan sewaktu orang tersebut mengutarakan hal-hal yang mengganggu dirinya
- Mengatakan pada mereka, bahwa mereka termasuk yang beruntung karena selamat
- Jika Dukungan Sosial yang diberikan tidak mencukupi..
- Biarkan mereka mengetahui apa yang dikatakan para ahli bahwa menghindar dan menarik diri akan menyebabkan peningkatan kesedihan/ketakutan (distress) dan menyadarkan bahwa dukungan sosial yang diberikan dapat menolong mereka untuk pulih
- Meyakinkan mereka agar mau untuk berkomunikasi dengan konselor, ustad/pendeta, atau dokter/perawat yang menawarkan diri membantu mereka
- Meyakinkan mereka untuk terlibat dalam kelompok yang mendukung satu sama lain yang sama-sama tertimpa bencana
- Pada akhirnya dukungan orang lain dalam lingkungan sosial akan menjadi bagian diri anda yang sangat mendukung satu sama lain.


Refences : 
- National Center for PTSD (2006)
- Kumpulan Materi Pelatihan Keperawatan Jiwa dan Cinical Instructur (CI) Kepearawatan Jiwa di Bapelkes dan RS. Jiwa Lawang Tahun 2001

*Materi telah disederhanakan dalam rangka di sampaikan untuk kepentingan Penyuluhan para TKW di Penampungan KBRI Kuwait.
Baca Selanjutnya Klik disini............

all about nursing

Saturday, July 22, 2006

"The Mesothelioma Cancer"



by. Siswanto M. Muhammad

Mesothelioma is a form of that is almost always caused by previous exposure to asbestos. In this disease, malignant (cancerous) cells develop in the mesothelium, a protective lining that covers most of the body's internal organs. Its most common site is the pleura (outer lining of the lungs and chest cavity), but it may also occur in the peritoium (the lining of the abdominal cavity) or thepericardium(a sac that surrounds the heart).
Most people who develop mesothelioma have worked on jobs where they inhaled asbestos particles, or have been exposed to asbestos dust and fibre in other ways, such as by washing the clothes of a family member who worked with asbestos, or by home renovation using asbestos cement products. There is no association between mesothelioma and smoking.

Signs and symptoms
Symptoms of mesothelioma may not appear until 20 to 50 years after exposure to asbestos. Shortness of breath, cough, and pain in the chest due to an accumulation of fluid in the pleural space are often symptoms of pleural mesothelioma.
Symptoms of peritoneal mesothelioma include weight loss and , abdominal swelling and pain due to ascites (a buildup of fluid in the abdominal cavity). Other symptoms of peritoneal mesothelioma may include bowel obstruction, blood clotting abnormalities, anemia, and fever. If the cancer has spread beyond the mesothelium to other parts of the body, symptoms may include pain, trouble swallowing, or swelling of the neck or face.
These symptoms may be caused by mesothelioma or by other, less serious conditions.
membrane surface to other parts of the body, such as the lymph nodes, lungs, chest wall, or abdominal organs.

Pathophysiology
The mesothelium consists of a single layer of flattened to cuboidal cells forming the epithelial lining of the serous cavities of the body including the peritoneal, pericardial and pleural cavities. Deposition of asbestos fibres in the parenchyma of the lung may result in the penetration of the visceral pleura from where the fibre can then be carried to the pleural surface, thus leading to the development of malignant mesothelial plaques. The processes leading to the development of peritoneal mesothelioma remain unresolved, although it has been proposed that asbestos fibres from the lung are transported to the abdomen and associated organs via the lymphatic system. Additionally, asbestos fibres may be deposited in the gut after ingestion of sputum contaminated with asbestos fibres.

Pleural contamination with asbestos or other mineral fibres has been shown to cause cancer. Long thin asbestos fibers (blue asbestos, amphibole,fibers) are more potent carcinogens than "feathery fibers" (chrysotile or white asbestos fibers. However, there is now evidence that smaller particles may be more dangerous than the larger fibers.They remain suspended in the air where they can be inhaled, and may penetrate more easily and deeper into the lungs. "We probably will find out a lot more about the health aspects of asbestos from [the World Trade Center attack], unfortunately," said Dr. Alan Fein, chief of pulmonary and critical-care medicine at North Shore-Long Island Jewish Health System. Dr. Fein has treated several patients for "World Trade Center syndrome" or respiratory ailments from brief exposures of only a day ortwo near the collapsed buildings.

Mesothelioma development in rats has been demonstrated following intra-pleural inoculation of phosphorylated chrysotile fibres. It has been suggested that in humans, transport of fibres to the pleura is critical to the pathogenesis of mesothelioma. This is supported by the observed recruitment of significant numbers of macrophages and other cells of the immune systemto localised lesions of accumulated asbestos fibres in the pleural and peritoneal cavities of rats. These lesions continued to attract and accumulate macrophages as the disease progressed, and cellular changes within the lesion culminated in a morphologically malignant tumour. Experimental evidence suggests that asbestos acts as a complete carcinogen with the development of mesothelioma occurring in sequential stages of initiation and promotion. The molecular mechanisms underlying the malignant transformation of normal mesothelial cells by asbestos fibres remain unclear despite the demonstration of its oncogenic capabilities. However, complete in vitro transformation of normal human mesothelial cells to malignant phenotype following exposure to asbestos fibres has not yet been achieved. In general, asbestos fibres are thought to act throughdirect physical interactions with the cells of the mesothelium in conjunction with indirect effects following interaction with inflammatory cells such as macrophages. Analysis of the interactions between asbestos fibres and DNA has shown that phagocytosed fibres are able to make contact with chromosomes, often adhering to the chromatin fibres or becoming entangled within the chromosome. This contact between the asbestos fibre and the chromosomes or structural proteins of the spindle apparatus can induce complex abnormalities. The most common abnormality is monosomy of chromosome 22. Other frequent abnormalities include structural rearrangement of 1p, 3p, 9p and 6q chromosome arms.

Asbestos fibres have been shown to alter the function and secretory properties of macrophages, ultimately creating conditions which favour the development of mesothelioma. Following asbestos phagocytosis, macrophages generate increased amounts of hydroxyl radicals, which are normal by-products of cellular anaerobic metabolism. However, these free radicals are also known clastogenic and membrane-active agents thought to promote asbestos carcinogenicity. These oxidants can participate in the oncogenic process by directly and indirectly interacting with DNA, modifying membrane-associated cellular events, including oncogene activation and perturbation of cellular antioxidant defences. Asbestos may also possess immunosuppressive properties. For example, chrysotile fibres have been shown to depress the in vitro proliferation of phytohemagglutinin-stimulated peripheral blood lymphocytes, suppress natural killer cell lysis and significantly reduce lymphokine-activated killer (LAK) cell viability and recovery. Furthermore, genetic alterations in asbestos-activated macrophages may result in the release of potent mesothelial cell mitogens such as platelet-derived growth factor (PDGF) and transforming growth factor-â (TGF-â) which in turn, may induce the chronic stimulation and proliferation of mesothelial cells after injury by asbestos fibres.

Epidemiology
Incidence
Although reported incidence rates have increased in the past 20 years, mesothelioma is still a relatively rare cancer. The incidence is approximately one per 1,000,000. For comparison, populations with high levels of smoking can have a lung cancer ncidence of over 1,000 per 1,000,000. Incidence of malignant mesothelioma currently ranges from about 7 to 40 per 1,000,000 in industrialized Western nations, depending on the amount of asbestos exposure of the populations during the past several decade. It has been estimated that incidence may have peaked at 15 per 1,000,000 in the United States in 2004. Incidence is expected to continue increasing in other parts of the world. Mesothelioma occurs more often in men than in women and risk increases with age, but this disease can appear in either men or women at any age. Approximately one fifth to one third of all mesotheliomas are peritoneal.

Between 1940 and 1979, approximately 27.5 million people were occupationally exposed to asbestos in the United States.Between 1973 and 1984, there has been a three-fold increase in the diagnosis of pleural mesothelioma in caucasion males. From 1980 to the late 1990s, the rate of deaths from mesothelioma increased from 2,000 to 3,000 a year. in the late 1990se in annual deaths from mesotheilioma. , with men four times more likely to acquire it than women. These rates may not be accurate, since it is possible that many cases of mesothelioma are misdiagnosed as adenocarcinoma of the lung, which is difficult to differentiate from mesothelioma.

Risk factors
Working with asbestos s the major risk factor for mesothelioma. A history of asbestos exposure exists in almost all cases. However, mesothelioma has been reported in some individuals without any known exposure to asbestos. In rare cases, mesothelioma has also been associated with irradiation, intrapleural thorium dioxide (Thorotrast), and inhalation of other fibrous silicates, such as erionite.
Asbestos is the name of a group of minerals that occur naturally as masses of strong, flexible fibers that can be separated into thin threads and woven. Asbestos has been widely used in many industrial products, including cement, brake linings, roof shingles, flooring products, textiles, and insulation. If tiny asbestos particles float in the air, especially during the manufacturing process, they may be inhaled or swallowed, and can cause serious health problems. In addition to mesothelioma, exposure to asbestos increases the risk of lung cancer, asbestosis (a noncancerous, chronic lung ailment), and other cancers, such as those of the larynx and kidney.

The combination of smoking and asbestos exposure significantly increases a person's risk of developing cancer of the airways (lung cancer,bronchial carcinoma). The Kent brand of cigarettes used asbestos in its filters for the first few years of production in the 1950s and some cases of mesothelioma have resulted. Smoking current cigarettes does not appear to increase the risk of mesothelioma.
Some studies suggest that simian virus 40 (SV40) may act as a in the development of mesotheliom.

Exposure
Asbestos has been mined and used commercially since the late . Its use greatly increased during World War II. Since the early 1940, millions of American workers have been exposedto asbestos dust. Initially, the risks associated with asbestos exposure were not publicly known. However, an increased risk of developing mesothelioma was later found among shipyard workers, people who work in asbestos mines and mills, producers of asbestos products, workers in the heating and construction industries, and other tradespeople. Today, the U.S. Occupational Safety and Health Administration(OSHA) sets limits for acceptable levels of asbestos exposure in the workplace, and created guidelines for engineering controls and respirators, protective clothing, exposure monitoring, hygiene facilities and practices, warning signs, labeling, recordkeeping, and medical exams. By contrast, the British Government's Health and Safety Executive (HSE) states formally that any threshold for mesothelioma must be at a very low level and it is widely agreed that if any such threshold does exists at all, then it cannot currently be quantified. For practical purposes, therefore, HSE does not assume that any such threshold exists. People who work with asbestos wear personal protective equipment to lower their risk of exposure.

Exposure to asbestos fibres has been recognised as an occupational health hazard since the early 1900. Several epidemiological studies have associated exposure to asbestos with the development of lesions such as asbestos bodies in the sputum, pleural plaques, diffuse pleural thickening, asbestosis, carcinoma of the lung and larynx, gastrointestinal tumours, and diffuse mesothelioma of the pleura and peritoneum.
The documented presence of asbestos fibres in water supplies and food products has fostered concerns about the possible impact of long-term and, as yet, unknown exposure of the general population to these fibres. Although many authorities consider brief or transient exposure to asbestos fibres as inconsequential and an unlikely risk factor, some epidemiologists claim that there is no risk threshold. Cases of mesothelioma have been found in people whose only exposure was breathing the air through ventilation systems. Other cases had very minimal (3 months or less) direct exposure.
Commercial asbestos mining at Wittenoom, Western Australia, occurred between 1945 and 1966. A cohort study of miners employed at the mine reported that while no deaths occurred within the first 10 years after crocidolite exposure, 85 deaths attributable to mesothelioma had occurred by 1985. It is predicted that the number of cases within this study group will reach in excess of 700 by the year 2020. By 1994, 539 reported deaths due to mesothelioma had been reported in Western Australia.

Family members and others living with asbestos workers have an increased risk of developing mesothelioma, and possibly other asbestos related diseases. This risk may be the result of exposure to asbestos dust brought home on the clothing and hair of asbestos workers. To reduce the chance of exposing family members to asbestos fibres, asbestos workers are usually required to shower and change their clothing before leaving the workplace.

Treatment
Treatment of MM using conventional therapies has not proved successful and patients have a median survival time of 6-12 months after presentation. The clinical behaviour of the malignancy is affected by several factors including the continuous mesothelial surface of the pleural cavity which favours local metastasis via exfoliated cells, invasion to underlying tissue and other organs within the pleural cavity, and the extremely long latency period between asbestos exposure and development of the disease.

Surgery
Surgery, either by itself or used in combination with pre- and post-operative adjuvant therapies has proved disappointing with a 5 year survival rate of less than 10%. A pleurectomy/decortication is the most common surgery, in which the lining of the chest is removed. Less common is an extrapleural pneumonectomy (EPP), in which the lung, lining of the inside of the chest, the hemi-diaphragm and the pericardium are removed.

Radiation
Although the tumor is highly resistant to radiotherapy, these regimens are sometimes used to relieve symptoms arising from tumor growth, such as obstruction of a major blood vessel.
Radiotherapy is commonly applied to the sites of chest drain insertion, in order to prevent growth of the tumor along the track in the chest wall.

Chemotherapy
In February 2004, the Food and Drug Administration approved pemetrexed (brand name Alimta) for treatment of malignant pleural mesothelioma.

Immunotherapy
Treatment regimens involving immunotherapy have yielded variable results. For example, intrapleural inoculation of Bacillus Calmette-Guérin (BCG) in an attempt to boost the immune response, was found to be of no benefit to the patient (while it may benefit patients with bladder cancer). Mesothelioma cells proved susceptible to in vitro lysis by LAK cells following activation by interleukin-2(IL-2), but patients undergoing this particular therapy experienced major side effects. Indeed, this trial was suspended in view of the unacceptably high levels of IL-2 toxicity and the severity of side effects such as fever and cachexia. Nonetheless, other trials involving interferon alpha have proved more encouraging with 20% of patients experiencing a greater than 50% reduction in tumor mass combined with minimalside effects.Heated Intraoperative Intraperitoneal Chemotherapy

A procedure known as heated intraoperative intraperitoneal chemotherapy was developed by Paul Sugarbaker at the Washington Cancer Institut. The surgeon removes as much of the tumor as possible followed by the direct administration of a chemotherapy agent, heated to between 40 and 48°C, in the abdomen. The fluid is perfused for 60 to 120 minutes and then drained.
This techniquepermits the administration of high concentrations of selected drugs into the abdominal and pelvic surfaces. Heating the chemotherapy treatment increases the penetration of the drugs into tissues. Also, heating itself damages the malignant cells more thanthe normal cells.


Legal issues
Asbestos litigation is the longest, most expensive mass tort in U.S. history, involving more than 6,000 defendants and 600,000 claimants. Current trends indicate that the rate at which people are diagnosed with the disease will likely increase though the next decade. Each year, 50,000 to 75,000 new asbestos-related lawsuits are filed. Analysts have estimated that the total costs of asbestos litigation in the USA alone will eventually reach $200 billion.See also asbestos and the law

History
The first lawsuit against asbestos manufacturers was brought in 1929. The parties settled that lawsuit, and as part of the agreement, the attorneys agreed not to pursue further cases. It was not until 1960 that an article published by Wagner et al in 1960 first officially established mesothelioma as a disease arising from exposure to crocidolite asbesto. The article referred to over 30 case studies of people who had suffered from mesothelioma in South Africa. Some exposures were transient and some were mine workers. In 1962 Dr McNulty reported the first diagnosed case of malignant mesothelioma in an Australian asbestos worke. The worker had worked in the mill at the asbestos mine in Wittenoom from 1948 to 1950.
In the town of Wittenoom, asbestos-containing mine waste was used to cover schoolyards and playgrounds. In 1965 an article in the British Journal of Industrial Medicine established that people who lived in the neighbourhoods of asbestos factories and mines, but did not work in them, had contracted mesothelioma.

Despite proof that the dust associatedwith asbestos mining and milling causes asbestos related disease, mining began at Wittenoom in 1943 and continued until 1966. It is difficult to understand why the mine and mill was allowed to initially open and operate without adequate risk control measures; and why nothing was done to force the owner (CSR) to clean them up, adopt safer work practices or close down their operations.
In 1974 the first public warnings of the dangers of blue asbestos were published in a cover story called "Is this Killer in Your Home?" in Australia's Bulletin magazine. In 1978 the Western Australian Government decided to phase out the town of Wittenoom, following the publication of a Health Dept. booklet, "The Health Hazard at Wittenoom", containing the results of air sampling and an appraisal of worldwide medical information.
By 1979 the first writs for negligence related to Wittenoom were issued against CSR and its subsidiary ABA, and the Asbestos Diseases Society was formed to represent the Wittenoom victims.

References:
  • Http://www.wikipedia.org

  • United States Department of Health and Human Services.

  • "Cigarette smoking, asbestos exposure, and malignant mesothelioma" by Muscat JE, Wynder EL in Cancer Research (1991)

  • "Soluble mesothelin-related protein--a blood test for mesothelioma" by B. W. Robinson, J. Creaney, R. Lake, A. Nowak, A. W. Musk, N. de Klerk, P.Winzell, K. E. Hellstrom and I. Hellstrom in Lung Cancer (2005)

  • "Malignant mesothelioma and occupational exposure to asbestos: a clinicopathological correlation of 1445 cases" by V. L. Roggli, A. Sharma, K. J.Butnor, T. Sporn and R. T. Vollmer in Ultrastruct Pathol (2002)
Baca Selanjutnya Klik disini............

all about nursing

Tuesday, June 20, 2006

“KONSEP DASAR PERILAKU KEORGANISASIAN”


1.Pengertian
Organisasi adalah wadah berkumpulnya sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama, kemudian mengorganisasikan diri dengan bekerja bersama-sama dan merealisasikan tujuanya.

Organisasi adalah wadah yang memungkinkan masayarakat dapat meraih hasil yang sebelumnya belum dapat dicapai oleh individu secara sendiri-sendiri. (James L. Gibson, 1986).

Manajemen organisasi adalah strategi pengelolaan lembaga untuk mencapai tujuan
organisasi yang efektif dan efesien.
Perilaku berorganisasi meliputi 3 ranah utama komponen yaitu :
a.Kognitif
b.Afektif
c.Psikomotor

2.Komponen Organisasi
Komponen penting organisasi meliputi :
•Tujuan
Merupakan sesuatu yang akan di capai dalam rentang waktu tertentu, Tujuan berdasarkan rentang dan cakupanya dapat di bagi dala beberapa karakteristik antara lain :
a.Tujuan Jangka panjang
b.Tujuan Jangka menengah dan
c.Tujuan Jangka pendek

•Struktur
Struktur Organisasi sangat penting untuk dapat dipahami oleh semua komponen dalam rangka menciptakan system kerja yang efektif dan efesien.

•Sistem
Terbagi dalam komponen penyusun yang saling berikatan yaitu :
a.Input
b.Proses
c.Output
d.Feedback

3.Organisasi Profesi
Asosiasi profesi, mengingat kembali kalimat William Smith, sebenarnya tak lain dari bentuk formal pertemanan antara orang-orang seprofesi. Karena bentuknya yang formal, maka asosiasi profesi biasanya mempunyai aturan-aturan, kode etik, syarat keanggotaan, bahkan yang lebih serius lagi mempunyai dewan kehormatan atau dewan pertimbangan yang bertugas untuk menegakkan disiplin organisasi.

Apa keuntungan kita untuk bergabung dalam satu asosiasi profesi? Jelas bahwa keuntungannya besar, terutama kalau anda adalah seorang pemula. Manfaat yang paling minimal adalah bahwa anda secara formal diakui sebagai salah satu professional pada bidang tertentu. Walaupun baru lulus kuliah, tetapi anda telah bergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia, atau Financial Planning Association of Indonesia, atau Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, Ikatan Advokat Indonesia atau apapun yang lain, minimal secara formal anda akan diakui sebagai salah satu dokter, salah satu perencana keuangan, salah satu sarjana ekonomi, salah satu advokat dll. Apalagi kalau untuk menjadi anggota asosiasi itu anda harus memenuhi sekian syarat, termasuk di antaranya ujian kecakapan profesi. Dengan demikian baik di antara teman-teman seprofesi maupun di hadapan masyarakat luas, anda akan diakui sebagai professional bidang tersebut.
Tetapi yang tak kalah penting sebenarnya justru di luar sisi formal keanggotaan itu sendiri. Yang lebih penting adalah bahwa anda masuk dalam kelompok professional bidang tertentu, yang mempunyai kebiasaan-kebiasaannya sendiri, cara berpikirnya sendiri, cara berpakaiannya sendiri, cara hidupnya sendiri dan lain-lain. Dengan bergaul intens dengan mereka, akan sangat mudah bagi anda untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan tuntutan profesi anda. Ingat, profesi adalah hidup anda sendiri, dengan seluruh seginya, baik menyangkut syarat-syarat keahlian maupun syarat-syarat non keahlian yang oleh masyarakat (pasar) dianggap penting. Dengan segala maaf, profesi juga menyangkut bagaimana anda berbicara, bagaimana anda berjalan, bagaimana anda berpakaian, bagaimana anda berdandan, bahkan juga aroma parfum anda.

4.Organisasi INNA-K
INNA-K berdiri atas prakarsa sekelompok perawat Indonesia yang ingin menyatukan perawat Indonesia dan mempermudah konsolidasi serta komunikasi intern perawat Indonesia di Kuwait. Pembentukan organisasi ini diawali dengan rapat anggota di KBRI Kuwait yang menghasilkan keputusan antara lain disetujuinya pembentukan APIK/INAK periode 1994-1995 dengan ketua saudara Syaefoel Hardi dan sekretaris saudari Siti Muzayanah, hingga diresmikannya organisasi ini pada tanggal 28 Juli 1994 oleh Bapak Dubes RI di Kuwait yang saat itu dijabat oleh Bapak H.A. Hidayat Kusumanegara.

Pada awal kepengurusan, APIK/INAK telah berhasil menyusun AD/ART yang sederhana sebagai landasan roda organisasi. Pada saat itu pula logo organisasi dibuat yang resmi menjadi lambing organisasi APIK/INAK di semua jenjang administrasi. Pengurus waktu itu telah melakukan pencatatan anggota dan pembuatan Kartu Tanda Anggota serta melengkapi administrasi organisasi dan menentukan lokasi sekretariat sebagai pusat kegiatan organisasi. Lokasi sekretariat saat itu berada di Naser Usman Building 40 1st floor Flat no 3 Reggae Kuwait.

TUJUAN UMUM ORGANISASI

Saat berdirinya, organisasi APIK/INAK mempunyai tujuan umum organisasi sebagai berikut “melahirkan insan perawat Indonesia yang kreatif dan dinamis, sebagai anggota profesi, sosial, dan pribadi berdasarkan pancasila dan UUD 1945”.

ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

AD/ART organisasi APIK/INAK telah dirumuskan oleh pengurus periode pertama dalam rapat pengurus yang diselenggarakan pada tanggal 30 Juni 1994. AD/ART ini terdiri atas pendahuluan, lima BAB dan tujuh pasal. AD/ART ini sudah cukup menjadi landasan jalannya organisasi saat itu. AD/ART ini belum pernah ada perubahan atau perbaikan sejak awal dirumuskan, sampai dengan masa kepengurusan INAK Periode Tahun 2004-2006.

Setelah memperhatikan isi AD/ART tersebut, sebagai pengurus periode 2004-2006 memandang perlu untuk mengadakan perbaikan AD/ART agar aktifitas organisasi kita bisa berjalan maksimal. Untuk melakukan hal tersebut tentunya mempertimbangkan aspek hukum yang terdapat dalam AD/ART tersebut yakni BAB V ATURAN TAMBAHAN yang menjelaskan tentang itu.

Dan Alhamdulillah pada masa akhir kepengurusan INAK periode tahun 2004-2006 INAK berhasil melakukan amandemen AD/ART yang meliputi :
•Anggaran dasar yang terdiri dari 10 BAB dan 18 Pasal
•Anggaran Rumah Tangga yang bterdiri dari 7 BAB dan 17 Pasal.

Sejak kepengurusan Periode Tahun 2006-2008 INAK telah resmi menjadi BRANCH PPNI Pertama di Luar Negeri dan berubah nama menjadi INNA-K (Indonesian National Nurses Association in Kuwait).

KEANGGOTAAN

Sebagai mana dijelaskan dalam AD/ART bahwa keanggotaan terdiri darai anggota biasa dan anggota kehormatan. Anggota Biasa INNA-K bersifat umum artinya bahwa setiap perawat Indonesia yang bekerja di Kuwait secara oromatis menjadi anggota organisasi dan berhak mendapatkan Kartu Tanda Anggota dan berhak pula untuk memilih dan dipilih dalam kepengurusan.

Setiap anggota wajib mendaftarkan diri ke sekretariat dengan membayar uang pendaftaran. Kewajiban lain anggota adalah membayar iuran bulanan yang besarnya KD 0,250 sesuai dengan AD/ART organisasi yang akan di bayarkan setiap 4 bulan sekali dan wajib mendukung dan berpartisipasi dalam segala kegiatan.

KEPENGURUSAN APIK/INAK

1.Periode 1994-1995 Ketua :Syaefoel Hardi
Wakil Ketua :Nandan Sunandi
Sekretaris :Siti Muzayanah
2.Periode 1995-1997 Ketua :Hari Supriyadi
Wakil Ketua :Suli Hamdani
Sekretaris :Jawadil Arifin
3.Periode 1997-1998 Ketua :Yudi Srimulyadi
Wakil Ketua :Suli Hamdani
Sekretaris :Edi Yusuf
4.Periode 1998-2000 Ketua :Amir Mahmud
Sekretaris :Edy Yusuf
5.Periode 2000-2001 Ketua :Supriyanto Suhadi Pawiro
Wakil Ketua :Mohammad. Makin
Sekretaris :Junizar Jamaludin
6.Periode 2001-2004 Ketua :Supriyanto Suhadi Pawiro
Wakil Ketua :Suyono
Sekretaris :Hendar Sunandar
7.Periode 2004-2006 Ketua :Hendar Sunandar
Wakil Ketua :Supriyanto Suradi
Sekretaris :Siswanto Muhtasor Muhammad
8. Periode 2006-208 Ketua Umum : Siswanto Muhtasor Muhammad
Ketua I : Eko Priyanto
Ketua II : Aldy Purmalinda
Sekretaris : Zaenal Mutaqin

5.Sebuah Kemenangan
Menurut anda apakah arti sebuah kemenangan? Bila kita mungkin membayangkan sebuah olahraga atau mungkin semacam permainan dengan aturan yang jelas dimana yang menang adalah yang bagaimana, sementara yang kalah adalah yang bagaimana, bisa jadi kita akan dengan mudah mendefinisikan sebuah kemenangan. Kita akan dengan mudah tahu sebuah pertandingan sepak-bola dimenangkan oleh kesebelasan yang mana ketika kita tahu skor hasil akhir, dimana yang menang adalah yang memiliki skor lebih tinggi dari lawannya.

Lalu bagaimana dengan kehidupan kita? Bagaimana dengan diri dan keluarga kita? Mungkinkah kita menjadi pemenang dalam menempuh karir pada profesi kita masing-masing? Mungkinkah kita menjadi pemenang dalam interaksi kehidupan rumah tangga kita? Haruskah kita menang dalam lingkungan kita bermasyarakat?

Agak susah mungkin kalau kita harus menjawab itu. Saya pun terkadang dalam hati ada keheranan ketika suatu saat ada sebuah pelatihan pengembangan kepribadian, dan tema yang ditawarkan disitu adalah ‘Menjadi Pemenang!”. Karena ketika kita harus menjadi seorang pemenang, haruskah ada seseorang –atau sesuatu- yang kalah di seberang sana.

Tidak mudah melihat ide Stephen Covey atas pengertian Win-win Solution. Karena memang menurut saya bahwa kondisi menang adalah sebuah penilaian. Kalau kita bicara mengenai pertandingan olahraga, disitu terdapat aturan yang jelas mengenai olahraga tersebut, dan yang lebih penting lagi semua orang dan terutama orang-orang yang terlibat dalam pertandingan tersebut tahu dan sadar akan aturan main itu.

Namun ketika kita bercermin pada kehidupan kita, keluarga kita, walaupun ada tataran nilai agama, budaya, atau etika mungkin, tetap banyak kemungkinan setiap orang akan melihat nilai-nilai aturan tersebut secara berbeda-beda. Sehingga ketika seseorang mengalami sesuatu kondisi, kemudian dengan kondisi itu dia merasa menang, belum tentu orang lain melihat itu sebagai sebuah kemenangan.

Dalam sebuah negosiasi misalnya, mungkin orang akan melihat sebuah kemenangan dirasakan oleh satu pihak ketika pihak tersebut mendapatkan kesepakatan yang sesuai dengan harapannya dari awal. Tapi menurut saya, bila sebuah negosiasi dilakukan kedua belah pihak tanpa adanya tekanan dari luar, tetap pihak satunya juga disebut mendapatkan sebuah kemenangan. Menarik juga, dua belah pihak ternyata bisa disebut menang, tanpa ada yang merasa kalah. Sementara bagi orang diluar kedua pihak tersebut yang bisa jadi melihat beda, misalnya dengan melihat satu pihak sebagai pemenang sementara pihak lain sebagai yang kalah, tentunya tidak perlu mempengaruhi pemikiran dan perasaan kedua pihak yang memang keduanya merasa menang.

Contoh lain misalnya yang sekarang banyak terlihat kisah-kisah di media infotainmen kita. Sepasang selebritis yang sedang dalam proses perceraian mereka. Kedua pihak berjuang di pengadilan mengenai hak asuh atas anak-anaknya. Suatu saat pengadilan memenangkan sang bekas suami, dan si bekas istri menjadi pihak yang kalah, dalam hal hak asuh atas anak-anak mereka. Saya tidak tahu persis apa yang mereka –bekas pasangan suami-istri tersebut- rasakan. Bisa jadi sang suami merasa menang, dan si istri merasa kalah dalam hal ini. Tapi saya yakin jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam, kedua pihak merasakan sebuah kehancuran akan kekalahan.

Sehingga sampai saat ini saya pun berkesimpulan bahwa dalam sebuah kehidupan, sebuah kemenangan adalah suatu keadaan unik masing-masing individu dan tidak bisa kita generalisasikan menjadi sebuah kondisi umum yang bisa diterima semua pihak.

Kesuksesan bagi sebagian orang mungkin sebuah kemenangan hidup, tapi saya pun kenal pada sebagian orang yang lain yang melihat sebuah kesuksesan adalah sebuah ancaman dan ketidak-tenangan. Apakah arti sebuah kemenangan, ketika saat menang kita justru merasa was-was.
Kekayaan pun demikian. Sebagian besar dari kita melihat bahwa hidup banyak uang adalah sebuah kemenangan hidup. Tapi kita tidak jarang mendengar para milyuner, justru terjerumus ke dalam hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan seperti narkoba, terjebak perselingkuhan dan sebagainya. Apalah arti kemenangan menjadi kaya, ketika dengan kemenangan itu kita menjadi buta dan tuli mana yang benar dan mana yang salah.

Saya juga pernah melihat sendiri, pada sebuah arena permainan keluarga di sebuah pusat perbelanjaan. Seorang bapak dengan seorang anaknya yang kira-kira pada usia sekolah dasar, bermain bersama sebuah game bola basket. Sebuah momen keceriaan bersama sebuah keluarga yang tentunya bisa kita jadikan contoh. Hanya saja sangat disayangkan, pada permainan tersebut si bapak justru secara sengaja beberapa kali mengajarkan pada anaknya bagaimana melakukan kecurangan agar menang alias dapat skor tinggi. Sebuah persepsi akan sebuah kemenangan yang dalam mencapainya seolah boleh dilalui dengan segala cara.

Sampai disini saya mulai mencoba mengerti kenapa Stephen Covey dalam judul habit ke-empatnya memakai istilah “Think Win/Win”, bukan hanya dengan istilah “Win/win” yang sekarang seolah selalu dilatahkan orang. Seolah menjadi sebuah kalimat ampuh yang bisa diucapkap saat mengawali sebuah negosiasi ataupun pembicaraan untuk mencari sebuah kesepakatan.

Dan menurut saya juga memang seharusnya demikian. Kondisi menang-menang haruslah dicapai ketika orang mampu memikirkan bagaiman sebaiknya arti sebuah kemenangan bagi dirinya sendiri. Tidak perlu terpengaruhi oleh persepsi orang lain, pengertian umum yang ada di masyarakat, atau tuntutan egonya.

Dan itu hanya bisa terjadi pada orang yang mampu proaktif melihat dirinya sebagai penentu keputusannya sendiri, mampu melihat apa yang nantinya menjadi tujuan yang harus ditempuh, dan mampu menyemangati dirinya untuk mengawali sebuah tindakan untuk mencapai tujuan tersebut. Tanpa itu semua, seseorang hanya mencari sebuah kemenangan hanya dalam usaha untuk mengalahkan, agar orang bisa melihat dia sebagai pihak yang menang.

Saya masih ingat sebuah momen yang bagi saya menarik dan menjadi contoh akan hal ini adalah ketika menjelang final Piala Eropa beberapa tahun yang lalu. Ketika itu berhadapan kesebelasan yang menjadi musuh bebuyutan yaitu kesebelasan Belanda dan kesebelasan –saat itu- Jerman Barat.

Malam menjelang pertandingan, manajemen kedua kesebelasan mengadakan jumpa pers. Menarik sekali, apa yang disampaikan saat itu bahwa masing masing kesebelasan memang akan bermain untuk mencapai kemenangan yang akan dipersembahkan bagi negara mereka masing-masing. Tapi ada lagi pernyataan mereka, bahwa kemenangan buat mereka adalah ketika mereka bisa menyuguhkan pertandingan sepakbola bermutu yang akan dipersembahkan kepada seluruh penonton di dunia dan menjadi catatan sejarah.

Dan ini semua mungkin bisa menjadi pelajaran bagi masing-masing diri kita terutama dalam lingkup kita memberdayakan diri kita dan keluarga kita. Bahwa sebuah kemenangan tidak harus dicapai dengan cara mengalahkan. Sebuah kemenangan justru terjadi ketika kita mampu berpikir untuk menang dan membuat semua orang juga merasa menang. Tidak dengan cara ‘menipu’ mereka akan arti sebuah kemenangan, tapi dengan cara memberdayakan mereka agar mampu bersama-sama melihat sebuah ‘kemenangan hidup bersama’.

Semenjak sekarang marilah kita mulai melakuakan strategi organisasi dengan pola untuk mencapai kemenagan bersama untuk INNA-K.

Referensi :
Andreas Harefa, Sukses tanpa gelar, Gramedia Press, 2001.
BS. Wibowo, dkk, Trusctco SHOOT “Sharpening our Concept and Tool”,
Ardian Syam, Konsep Manajemen, Author, Http://www.pembelejar.com.
Her Suharyanto, Bergabung dengan organisasi profesi, 2002.
Baca Selanjutnya Klik disini............

all about nursing

Sunday, May 07, 2006

“KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT”


1.Konsep Dasar
1.1 Pengertian
Cairan dan elektrolit sangat diperlukan dalam rangka menjaga kondisi tubuh tetap sehat. Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh adalah merupakan salah satu bagian dari fisiologi homeostatis. Keseimbangan cairan dan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air ( pelarut) dan zat tertentu (zat terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik yang disebut ion jika berada dalam larutan. Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.

Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu : cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler. Cairan intraseluler adalah cairan yang berda di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan akstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu : cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler. Cairan intravaskuler (plasma) adalah cairan di dalam sistem vaskuler, cairan intersitial adalah cairan yang terletak diantara sel, sedangkan cairan traseluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan intraokuler, dan sekresi saluran cerna.

1.2 Proportion Of Body Fluid
Prosentase dari total cairan tubuh bervariasi sesuai dengan individu dan tergantung beberapa hal antara lain :
a.Umur
b.Kondisi lemak tubuh
c.Sex
Perhatikan Uraian berikut ini :
No. Umur Prosentase
1. Bayi (baru lahir) 75 %
2. Dewasa :
a.Pria (20-40 tahun) 60 %
b.Wanita (20-40 tahun) 50 %
3. Usia Lanjut 45-50 %


Pada orang dewasa kira-kira 40 % baerat badannya atau 2/3 dari TBW-nya berada di dalam sel (cairan intraseluler/ICF), sisanya atau 1/3 dari TBW atau 20 % dari berat badannya berada di luar sel (ekstraseluler) yaig terbagi dalam 15 % cairan interstitial, 5 % cairan intavaskuler dan 1-2 % transeluler.

1.3 Elektrolit Utama Tubuh Manusia
Zat terlarut yang ada dalam cairan tubuh terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit. Non elektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik, seperti : protein, urea, glukosa, oksigen, karbon dioksida dan asam-asam organik. Sedangkan elektrolit tubuh mencakup natrium (Na+), kalium (K+), Kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), Klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-), fosfat (HPO42-), sulfat (SO42-).

Konsenterasi elektrolit dalam cairan tubuh bervariasi pada satu bagian dengan bagian yang lainnya, tetapi meskipun konsenterasi ion pada tiap-tiap bagian berbeda, hukum netralitas listrik menyatakan bahwa jumlah muatan-muatan negatif harus sama dengan jumlah muatan-muatan positif.

Komposisi dari elektrolit-elektrolit tubuh baik pada intarseluler maupun pada plasma terinci dalam tabel di bawah ini :

No. Elektrolit Ekstraseluler Intraseluler
Plasma Interstitial
1. Kation :
• Natrium (Na+) 144,0 mEq 137,0 mEq 10 mEq
• Kalium (K+) 5,0 mEq 4,7 mEq 141 mEq
• Kalsium (Ca++) 2,5 mEq 2,4 mEq 0
• Magnesium (Mg ++) 1,5 mEq 1,4 mEq 31 mEq

2. Anion :
• Klorida (Cl-) 107,0 mEq 112,7 mEq 4 mEq
• Bikarbonat (HCO3-) 27,0 mEq 28,3 mEq 10 mEq
• Fosfat (HPO42-) 2,0 mEq 2,0 mEq 11 mEq
• Sulfat (SO42-) 0,5 mEq 0,5 mEq 1 mEq
• Protein 1,2 mEq 0,2 mEq 4 mEq

a. Kation :
• Sodium (Na+) :
- Kation berlebih di ruang ekstraseluler
- Sodium penyeimbang cairan di ruang eesktraseluler
- Sodium adalah komunikasi antara nerves dan musculus
- Membantu proses keseimbangan asam-basa dengan menukar ion hidrigen pada ion sodium
di tubulus ginjal : ion hidrogen di ekresikan
- Sumber : snack, kue, rempah-rempah, daging panggang.

• Potassium (K+) :
- Kation berlebih di ruang intraseluler
- Menjaga keseimbangan kalium di ruang intrasel
- Mengatur kontrasi (polarissasi dan repolarisasi) dari muscle dan nerves.
- Sumber : Pisang, alpokad, jeruk, tomat, dan kismis.

• Calcium (Ca++) :
- Membentuk garam bersama dengan fosfat, carbonat, flouride di dalam tulang dan gigi untuk membuatnya keras dan kuat
- Meningkatkan fungsi syaraf dan muscle
- Meningkatkan efektifitas proses pembekuan darah dengan proses pengaktifan
protrombin dan trombin
- Sumber : susu dengan kalsium tinggi, ikan dengan tulang, sayuran, dll.

b.Anion :
• Chloride (Cl -) :
- Kadar berlebih di ruang ekstrasel
- Membantu proses keseimbangan natrium
- Komponen utama dari sekresi kelenjar gaster
- Sumber : garam dapur



• Bicarbonat (HCO3 -) :
Bagian dari bicarbonat buffer sistem
- Bereaksi dengan asam kuat untuk membentuk asam karbonat dan suasana garam untuk
menurunkan PH.

• Fosfat ( H2PO4- dan HPO42-) :
- Bagian dari fosfat buffer system
- Berfungsi untuk menjadi energi pad metabolisme sel
- Bersama dengan ion kalsium meningkatkan kekuatan dan kekerasan tulang
- Masuk dalam struktur genetik yaitu : DNA dan RNA.

1.4 Perpindahan Cairan dan Elektrolit Tubuh
Perpindahan cairan dan elektrolit tubuh terjadi dalam tiga fase yaitu :
a.Fase I :
Plasma darah pindah dari seluruh tubuh ke dalam sistem sirkulasi, dan nutrisi dan oksigen diambil dari paru-paru dan tractus gastrointestinal.

b.Fase II :
Cairan interstitial dengan komponennya pindah dari darah kapiler dan sel

c.Fase III :
Cairan dan substansi yang ada di dalamnya berpindah dari cairan interstitial masuk ke dalam sel.
Pembuluh darah kapiler dan membran sel yang merupakan membran semipermiabel mampu memfilter tidak semua substansi dan komponen dalam cairan tubuh ikut berpindah. Metode perpindahan dari cairan dan elektrolit tubuh dengan cara :
• Diffusi
• Filtrasi
• Osmosis
• Aktiv Transport

Diffusi dan osmosis adalah mekanisme transportasi pasif. Hampir semua zat berpindah dengan mekanisme transportasi pasif. Diffusi sederhana adalah perpindahan partikel-partikel dalam segala arah melalui larutan atau gas. Beberapa faktor yang mempengaruhi mudah tidaknya difusi zat terlarut menembus membran kapiler dan sel yaitu :
• Permebelitas membran kapiler dan sel
• Konsenterasi
• Potensial listrik
• Perbedaan tekanan.
Osmosis adalah proses difusi dari air yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi. Difusi air terjadi pada daerah dengan konsenterasi zat terlarut yang rendah ke daerah dengan konsenterasi zat terlarut yang tinggi.

Perpindahan zat terlarut melalui sebuah membrane sel yang melawan perbedaan konsentrasi dan atau muatan listrik disebut transportasi aktif. Transportasi aktif berbeda dengan transportasi pasif karena memerlukan energi dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP). Salah satu contonya adalah transportasi pompa kalium dan natrium.

Natrium tidak berperan penting dalam perpindahan air di dalam bagian plasma dan bagian cairan interstisial karena konsentrasi natrium hampir sama pada kedua bagian itu. Distribusi air dalam kedua bagian itu diatur oleh tekanan hidrostatik yang dihasilkan oleh darah kapiler, terutama akibat oleh pemompaan oleh jantung dan tekanan osmotik koloid yang terutama disebabkan oleh albumin serum. Proses perpindahan cairan dari kapiler ke ruang interstisial disebut ultrafilterisasi. Contoh lain proses filterisasi adalah pada glomerolus ginjal.

Meskipun keadaan di atas merupakan proses pertukaran dan pergantian yang terus menerus namun komposisi dan volume cairan relatif stabil, suatu keadaan yang disebut keseimbangan dinamis atau homeostatis.

1.5 Regulating Body Fluid Volumes
Di dalam tubuh seorang yang sehat volume cairan tubuh dan komponen kimia dari cairan tubuh selalu berada dalam kondisi dan batas yang nyaman. Dalam kondisi normal intake cairan sesuai dengan kehilangan cairan tubuh yang terjadi. Kondisi sakit dapat menyebabkan gangguan pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Dalam rangka mempertahankan fungsi tubuh maka tubuh akan kehilanagn caiaran antara lain melalui proses penguapan ekspirasi, penguapan kulit, ginjal (urine), ekresi pada proses metabolisme.

a. Intake Cairan :
Selama aktifitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa minum kira-lira 1500 ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500 ml per hari sehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari makanan, dan oksidasi selama proses metabolisme.Berikut adalah kebutuhan intake cairan yang diperlukan berdasarkan umur dan berat badan, perhatikan tabel di bawah ini :

No. Umur Berat Badan (kg) Kebutuhan Cairan (mL/24 Jam).
1. 3 hari 3,0 250-300
2 1 tahun 9,5 1150-1300
3. 2 tahun 11,8 1350-1500
4. 6 tahun 20,0 1800-2000
5. 10 tahun 28,7 2000-2500
6. 14 tahun 45,0 2200-2700
7. 18 tahun(adult) 54,0 2200-2700

Pengatur utama intake cairan adalah melalui mekanisme haus. Pusat haus dikendalikan berada di otak Sedangakan rangsangan haus berasal dari kondisi dehidrasi intraseluler, sekresi angiotensin II sebagai respon dari penurunan tekanan darah, perdarahan yang mengakibatkan penurunan volume darah. Perasaan kering di mulut biasanya terjadi bersama dengan sensasi haus walupun kadang terjadi secara sendiri. Sensasi haus akan segera hilang setelah minum sebelum proses absorbsi oleh tractus gastrointestinal.

b.Output Cairan :
Kehilangan caiaran tubuh melalui empat rute (proses) yaitu :
a.Urine :
Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekresi melalui tractus urinarius merupakan proses output cairan tubuh yang utama. Dalam kondisi normal output urine sekitar 1400-1500 ml per 24 jam, atau sekitar 30-50 ml per jam. Pada orang dewasa. Pada orang yang sehat kemungkinan produksi urine bervariasi dalam setiap harinya, bila aktivitas kelenjar keringat meningkat maka produksi urine akan menurun sebagai upaya tetap mempertahankan keseimbangan dalam tubuh.

b.IWL (Insesible Water Loss) :
IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit, Melalui kulit dengan mekanisme difusi. Pada orang dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui proses ini adalah berkisar 300-400 mL per hari, tapi bila proses respirasi atau suhu tubuh meningkat maka IWL dapat meningkat.

c.Keringat :
Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas, respon ini berasal dari anterior hypotalamus, sedangkan impulsnya ditransfer melalui sumsum tulang belakang yang dirangsang oleh susunan syaraf simpatis pada kulit.
d.Feces :
Pengeluaran air melalui feces berkisar antara 100-200 mL per hari, yang diatur melalui mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus besar (kolon).

1.6 Faktor yang Berpengaruh pada Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
Faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh antara lain :
a.Umur :
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung.

b.Iklim :
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari.
c.Diet :
Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema.

d.Stress :
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glykogen otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.

e.Kondisi Sakit :
Kondisi sakit sangat b3erpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh Misalnya :
- Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL.
- Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
- Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan intake
cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri.

f.Tindakan Medis :
Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh seperti : suction, nasogastric tube dan lain-lain.

g.Pengobatan :
Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksative dapat berpengaruh pada kondisi cairan dan elektrolit tubuh.
h.Pembedahan :
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan kehilangan darah selama pembedahan.

1.7 Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit Tubuh
Tiga kategori umum yang menjelaskan abnormalitas cairan tibuh adalah :
• Volume
• Osmolalitas
• Komposisi
Ketidakseimbangan volume terutama mempengaruhi cairan ekstraseluler (ECF) dan menyangkut kehilangan atau bertambahnya natrium dan air dalam jumlah yang relatif sama, sehingga berakibat pada kekurangan atau kelebihan volume ekstraseluler (ECF).

Ketidakseimbangan osmotik terutama mempengaruhi cairan intraseluler (ICF) dan menyangkut bertambahnya atau kehilangan natrium dan air dalam jumlah yang relatif tidak seimbang. Gangguan osmotik umumnya berkaitan dengan hiponatremia dan hipernatremia sehingga nilai natrium serum penting untuk mengenali keadaan ini.

Kadar dari kebanyakan ion di dalam ruang ekstraseluler dapat berubah tanpa disertai perubahan yang jelas dari jumlah total dari partikel-partikel yang aktif secara osmotik sehingga mengakibatkan perubahan komposisional.

a. Ketidakseimbangan Volume
• kurangan Volume Cairan Ekstraseluler (ECF)
Kekurangan volume ECF atau hipovolemia didefinisikan sebagai kehilangan cairan tubuh isotonik, yang disertai kehilangan natrium dan air dalam jumlah yang relatif sama. Kekurangan volume isotonik sering kali diistilahkan dehidrasi yang seharusnya dipakai untuk kondisi kehilangan air murni yang relatif mengakibatkan hipernatremia.
- airan Isotonis adalah cairan yang konsentrasi/kepekatannya sama dengan cairan
tubuh, contohnya : larutan NaCl 0,9 %, Larutan Ringer Lactate (RL).
- Cairan hipertonis adalah cairan yang konsentrasi zat terlarut/kepekatannya
melebihi cairan tubuh, contohnya Larutan dextrose 5 % dalam NaCl normal, Dextrose
5% dalam RL, Dextrose 5 % dalam NaCl 0,45%.
- Cairan Hipotonis adalah cairan yang konsentrasi zat terlarut/kepekataannya kurang
dari cairan tubuh, contohnya : larutan Glukosa 2,5 %., NaCl.0,45 %, NaCl 0,33 %.

• Kelebihan Volume ECF :
Kelebihan cairan ekstraseluler dapat terjadi bila natrium dan air kedua-duanya tertahan dengan proporsi yang kira- kira sama.Dengan terkumpulnya cairan isotonik yang berlebihan pada ECF (hipervolumia) maka cairan akan berpindah ke kompartement cairan interstitial sehingga mnyebabkan edema. Edema adalah penunpukan cairan interstisial yang berlebihan. Edema dapat terlokalisir atau generalisata.


b.Ketidakseimbangan Osmolalitas dan perubahan komposisional
Ketidakseimbangan osmolalitas melibatkan kadar zat terlarut dalam cairan-cairan tubuh. Karena natrium merupakan zat terlarut utama yang aktif secara osmotik dalam ECF maka kebanyakan kasus hipoosmolalitas (overhidrasi) adalah hiponatremia yaitu rendahnya kadar natrium di dalam plasma dan hipernatremia yaitu tingginya kadar natrium di dalam plasma. Pahami juga perubahan komposisional di bawah ini :
• Hipokalemia adalah keadaan dimana kadar kalium serum kurang dari 3,5 mEq/L.
• Hiperkalemia adalah keadaan dimana kadar kalium serum lebih dari atau sama dengan
5,5 mEq/L.
• Hiperkalemia akut adalah keadaan gawat medik yang perlu segera dikenali, dan
ditangani untuk menghindari disritmia dan gagal jantung yang fatal.

2. Proses Keperawatan
2.1 Pengkajian
Pengkajian keperawatan secara umum pada pasien dengan gangguan atau resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit meliputi :
• Kaji riwayat kesehatan dan kepearawatan untuk identifikasi penyebab gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit
• Kaji manifestasi klinik melalui :
- Timbang berat badan klien setiap hari
- Monitor vital sign
- Kaji intake output
• Lakukan pemeriksaan fisik meliputi :
- Kaji turgor kulit, hydration, temperatur tubuh dan neuromuskuler irritability.
- Auskultasi bunyi /suara nafas
- Kaji prilaku, tingkat energi, dan tingkat kesadaran
• Review nilai pemeriksaan laboratorium : Berat jenis urine, PH serum, Analisa Gas
Darah, Elektrolit serum, Hematokrit, BUN, Kreatinin Urine.

2.2 Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang umum terjadi pada klien dengan resiko atau gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit adalah :
• Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ansietas, gangguan mekanisme
pernafasan, abnormalitas nilai darah arteri
• Penurunan kardiak output berhubungan dengan dysritmia kardio, ketidakseimbangan
elektrolit
• Gangguan keseimbangan volume cairan : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan diare, kehilangan cairan lambung, diaphoresis, polyuria.
• Gangguan keseimbangan cairan tubuh : berlebih bwerhubungan dengan anuria,
penurunan kardiak output, gangguan proses keseimbangan, Penumpukan cairan di
ekstraseluler.
• Kerusakan membran mukosa mulut berhubungan dengan kekurangan volume cairan
• Gangguan integritas kulit berhubungan dengan dehidrasi dan atau edema
• Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan edema

2.3 Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan yang umum dilakukan pada pasien gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit adalah :
a. Atur intake cairan dan elektrolit
b. Berikan therapi intravena (IVFD) sesuai kondisi pasien dan intruksi dokter dengan
memperhatikan : jenis cairan, jumlah/dosis pemberian, komplikasi dari tindakan
c. Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti :deuretik, kayexalate.
d. Provide care seperti : perawatan kulit, safe environment.

2.4 Evaluasi/Kreteria hasil :
Kreteria hasil meliputi :
• Intake dan output dalam batas keseimbangan
• Elektrolit serum dalam batas normal
• Vital sign dalam batas normal.

# Rujukan :

Barbara Kozier, Fundamental Of Nursing Concept, Process and Practice, Fifth Edition, Addison Wsley Nursing, California, 1995

Dolores F. Saxton, Comprehensive Review Of Nursing For NCLEK-RN, Sixteenth Edition, Mosby, St. louis, Missouri, 1999.

Sylvia Anderson Price, Alih : Peter Anugerah, Pathofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Edisi kedua, EGC, Jakarta, 1995.
Baca Selanjutnya Klik disini............

all about nursing

Saturday, May 06, 2006

"Menyiapkanan Perawat Untuk Bekerja ke Luar negeri"


>.. Sebuah Pengalaman Pribadi :

Oleh : Siswanto M. Muhammad

Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi dengan kawan-kawan se-profesi, apa yang saya tuangkan dalam tulisan saya ini adalah berangkat dari rasa keprihatinan saya terhadap kondisi semakin sempitnya peluang pekerjaan dan semakin banyaknya pengangguran yang terjadi di negara-ku tercinta Indonesia.

Saya tidak akan membicarakan penggangguran secara umum tapi lebih berfokus pada apa yang terjadi pada profesi "PERAWAT" atau "NURSE", supaya lebih menarik, saya akan coba menampilkan bagaimana kondisi secara umum kehidupan Perawat yang bekerja di luar negeri di bandingkan dengan perawat yang bekerja di dalam negeri (INDONESIA) :

Secara finansial saja jelas terdapat perbedaan yang sangat mencolok :
Bandingkan Perawat Indonesia dengan basic pendidikan D3 Keperawatan saja di Kuwait menerima rata2 berkisar antara (KD 300 s/d KD400) atau setara (Rp. 10 juta s/d 12 juta) per bulan, dan kita masih dapat fasilitas tempat tinggal APARTEMEN yang boleh di katakan mewah bagi yang tidak berkeluarga, Kendaraan antar Jemput ber-AC yang di siapkan oleh Ministry Of Helath Kuwait dan masih banyak benefite yang lain yang kami terima.

Sedangkan Perawat di Indonesia mendapatkan penghargaan yang sangat jauh dari kelayakan, Perawat seakan di anggap Profesi KELAS 2 (DUA) dalam pelayanan Kesehatan.Segala Kebijakan yang di ambil seakan tidak memandang Perawat sebagai Profesi Kesehatan Terbesar.Sebagai Contoh masih banyak Perawat di Daerah yang bekerja baik sebagai tenaga tetap ataupun Honorer, dan masih ada diantara mereka yang hanya menerima GAJI yang mungkin untuk menutupi kebutuhanya per-BULAN saja tidak cukup.

Jadi jangan salahkan mereka yang pada akhirnya mereka memberikan pelayanan PRAKTIK dengan menerima Pasien yang secara tidak langsung sebenarnya bentuk pelayan yang mereka berikan bukan lagi SKILL KEPERAWATAN, Sungguh ini sebuah fenomena yang sangat luar biasa....dan apabila di biarkan tentu akan menggangu Kredebilitas PERAWAT itu sendiri.

Hal yang paling menggelikan adalah ketika SEORANG PERAWAT di kampung....(DAERAH) akan dengan bangga di panggil dengan sebutan "DOKTER" padahal mereka tidak pernah sama sekali mengenyam pendidikan sebagai seorang "DOKTER" tentu ini adalah Fenomena lain yang sangat memalukan kita sebagai PERAWAT di mata PROFESI LAIN.....DOKTER kah KITA??? Tentu bukan...

Menurut analisa saya, ini adalah sebuah Fenomena SEBAB AKIBAT....pertanyaanya, ampukah kita secara perorangan atau organisatoris melakukan identifikasi terhadap SEBAB-SEBAB yang telah mengakibatkan AKIBAT-AKIBAT? Ini butuh kerja keras dari semua komponen Perawat, meminjam istilahnya AA GYM " Mulailah dari Sekarang, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah dari yang kecil" tapi tentu akan lebih efektif bila kita secara bersama di bawah komando PPNI melakukanya dengan : "Mulailah dari saat ini dan seterusnya, Mulailah Dari kecil dan yang besar, Mulailah dari diri sendiri dan organisasi".

Pada inti tulisan saya ini saya akan mencoba mengidentifikasi masalah-masalah yang menurut saya sangat "urgent" untuk segera di tangani :

a. Standarisasi MUTU PENDIDIKAN (Wajibkan seluruh sistem pendidikan KEPERAWATAN menggunkan Bahasa inggris sebagai pengantar pembelajaran)

Institusi Pendidikan adalah Lembaga yang paling bertanggungjawab dalam menentukan suatu kualitas SDM dari sebuah profesi, karena diri sinilah sebuah generasi peneris dari suatu profesi di bentuk baik secara Kognitif, Afektif atau Skill Psikomotorik, selain banyak faktir yang berpengaruh dalam aspek ini.

Dengan standarisasi sistem pendidikan terutama dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai pengantar pendidikan saya yakin mutu lulusan akan meningkat, sehingga pada akhirnya para ALUMNI akan lebih siap menghadapi ERA GLOBAL dan bersaing dengan PERAWAT dari Negara lain, tentu pada akhirnya akan mengurangi pengangguran.

Bagi Institusi yang tidak mau atau tidak siap untuk melakukan hal tersebut kita harus lebih berani dalam mengambil sikap, Idealnya Organisasi Profesi harus punya nilai tawar yang tinggi terhadap penerbitan atan perpanjangan izin suatu institusi pendidikan. Organisasi Profesi haruis mampu mengontrol kualitas MUTU dari sebuah sistem pendidikan profesi dan harus memiliki sanksi yang lebih tegas.Artinya bagi institusi yang TIDAK memenuhi STANDAR MUTU kita harus berani mencabut izinya.

Kita Ambil Contoh di Philipines sekarang mereka mengalami KRISIS tenaga PERAWAT di dalam negeri karena semua PERAWAT Mereka Bekerja ke Luar NEGERI, sehingga nilai Tawar Profesi Perawat di negara ini sangat tinggi. Bayangkan Seorang DOKTER SPECIALIS BEDAH , ARSITEK atau PENGACARA sekalipun Rela untuk Kuliah lagi di KEPERAWATAN dan meninggalkan Profesi lama mereka karena profesi Perawat sangat punya nilai tawar di negara ini.

b. Tentukan Nilai Tawar Profesi terhadap Pengambil Kebijakan Pemerintahan terutama DEPKES RI terutama menyangkut Gaji PERAWAT untuk
meningkatkan kesejahteraan perawat.

Kesejahteraan bagi perawat sangat "URGENT" untuk segera di tangani, tentu dengan cara meningkatkan pendapatan mereka, sehingga kejadian seperti "MALPRAKTEK" yang dilakukan oleh Perawat baik di daerah ataupun di Kota sekalipun tidak ada lagi, Tidak ada lagi "PERAWAT" yang melakukan PRAKTEK ILMU KEDOKTERAN, sehingga kawan-kawan Dokter juga tidak akan memandang kita sebelah mata, karena kita memiliki Standarisasi PRAKTEK yang berbeda, ini juga tentu sangat bisa difasilitasi dan diperkuat bila kita segera membuat Undang-Undang Keperawatan "URGENT!!!"

c. Giatkan Upaya PELATIHAN di semua daerah untuk menjaring LULUSAN Perawat dan berikan informasi tentang kesempatan kerja bagi perawat di
Luar Negeri sehingga mampu mengurangi pengangguran.

Banyak Tenaga PERAWAT yang takut untuk mengikuti seleksi test dan kesempatan bekerja di LUAR NEGERI dengan alasan tidak mampu, dan banyak dari mereka yang menurut Hemat saya terlalu dini dalam mengambil keputusan Ibaratnya "Kalah sebelum BERPERANG", ini harus di fasilitasi dengan mengoptimalkan Pengurus PPNI sebagai jaringan Sistem Informatif, Lebih bagus lagi kalau penyiapan tenaga perawat yang akan bekerja di Luar negeri di ambil alih oleh PPNI.

d. Kendali SISTEM ROTASI

Belajar dari Negara India dan Philipines, mereka memiliki kemampuan manajemen lulusan yang cukup bagus, setiap lulusan yang baru lulus diberikan kesempatan bekerja di seluruh rumah sakit, sambil menyiapkan diri untuk mengikuti TEST di LUAR NEGERI, kemudaian begitu seterusnya sehingga ada sistem rotasi dan replacement yang bagus.

e. Peningkatan dan Sosialisasi Stratafikasi Pendidikan

Di Philipines mereka sudah tida aka lagi [rogram pendidikan D3 Keperawatan, sistem pendidikan mereka semuanya sudah S1 Keperawatan, ini sangat berpengaruh karena gaji bagi lulusan S1 di Luar Negeri sudah 2 kali lipat gaji D3 Keperawatan.

Kita juga sangat perlu melakukan sosialisasi sistem pendidikan kita, Kitamemang bangga karena kita sudah memiliki Program S2 Keperawatan, tapi tentu sosialisasi dari sistem pendidikan kita juga sangat perlu, Pengalaman ini kami alami karena kami Perawat dengan S1 Keperawatan yang bekerja di Kuwait tidak diakui dan dtratafikasi kami disamakan dengan D3 Keperawatan, karena sistem pendidikan kita yang sangat bervariatif.Untuk lebih efektif mungkin lebih bagus kalu semua program D3 Keperawatan di tutup saja dan di ganti dengan sistem penddidikan S1 Keperawatan.
Baca Selanjutnya Klik disini............

all about nursing